Summer in Banda Aceh

Aseekkk, judulnya uda semacem drama korea aja haha😀

Tapi, ini bukanlah cerita fiksi atau fanfiction, ini hanyalah serangkaian curhat gak jelas anak perantauan yang tinggal di Banda Aceh #tsaaahh
Jika di postingan sebelumnya gue bercerita panjang lebar tentang wisata di Kota Banda Aceh, maka kali ini gue bercerita tepatnya curhat  tentang suka dan duka hidup di Banda Aceh *halah lebaayy

Sebagai perantau yang datang dari kota kecil(?), gue cukup takjub saat pertama kali nyampe Banda Aceh. Biasanya di kota gue tak ada gunung dan laut eh disini, disebelah kanan ada gunung disebelah kiri ada laut. Kesan pertama : Komplit! trus kesan kedua adalah Panas!!

Seperti kita tau, Indonesia adalah negara tropis karena berada dekat dengan garis khatulistiwa. Dimana, di negara tropis, matahari akan bersinar sepanjang tahun gak seperti di negara-negara sub tropis seperti wilayah Eropa, Amerika dan lain-lain. Karena matahari bersinar sepanjang tahun, tentunya kita sudah biasa dengan hawa panas di kehidupan sehari-hari. Tapi, panasnya Banda Aceh itu beda, gak seperti panas di kota-kota lain di Aceh. Kalau sedang musim kemarau seperti sekarang, panasnya itu seakan langit Banda Aceh tidak dilapisi lagi oleh lapisan-lapisan atmosfer yang mampu menyerap panasnya matahari,  rasanya panasnya itu bikin pusing dan sakit kepala kalau kita berjalan-jalan saat siang dan tanpa penutup kepala. Kalau mengendarai sepeda motor, panasnya itu terasa menyengat kulit jadi siap-siap kulit jadi belang kalau gak pake baju tertutup.

Suhu rata-rata di Banda Aceh pada musim kemarau seperti sekarang dapat mencapai 36 derajat celcius! kebayang gak tu gimana panasnya -_- Katanya sih suhu panas ini dipengaruhi keberadaan angin, banyaknya pohon dan pengarug topografi banda aceh yang rendah. Karena panasnya yang menyengat, dianjurkan untuk meminimalisir paparan kulit oleh sinar uv agar tercegah dari kanker kulit dan permasalahan kulit lainnya. Hmmm gak salah kalau gue pake bb cream yang punya spf 30 -_-

Apalagi kalau dapat jadwal mati lampu dari PLN. Selain mengganggu aktivitas belajar, wushh panasnya kamar tanpa kipas angin itu…gak bisa digambarkan. Kalau lagi gak bokek, ya silahkan kungjungi cafe atau tempat hiburan lainnya. Kalau kantong lagi menipis dan malas mengungsi ke rumah teman, siap-siap  aja duduk mejeng  di depan rumah dan digigitin nyamuk hahah. Pernah, saat mati lampu, karena panasnya yang gak tertahankan lagi kami serumah rame-rame duduk di teras rumah kost dan menunggu teman membawakan file drama My Love From Another Stars episode terakhir. Bermodalkan sarung dan laptop w/ battery 80% kami pun duduk di teras menonton episode terakhir layaknya menonton bioskop alias dalam kegelapan hahah.

Selain mati lampu, kendala lainya adalah jika kipas angin rusak!! Kamu gak bisa tinggal di Banda Aceh tanpa kipas angin atau AC (Air Conditioner atau Angin Cepoi2 haha). Kalau kipas angin rusak, hidup jadi  gak tenang, mau ngelakuin apapun jadi malas dan gerah. Cuaca panas ini dirasakan sejak pagi dan semakin panas pada siang hari. Malam hari? suhunya pun masih tinggi *berasa di sauna*

 

Bagi kalian yang akan berkunjung ke Banda Aceh, jangan heran dengan cuaca panas yang lain daripada yang lain dan siapin aja sun cream :p. Makanya, yuk tanam pohon di rumah masing-masing….biar sejuk dan adeemmm😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s